K I L A S M A N A D O . C O M | Torang pe koran online

Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan

  • 706 views
  • 0 comments
  •  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK
  •  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK
  •  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK
  • thumb  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK
  • thumb  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK
  • thumb  Sekiranya Silent Majority Itu Menjelma Menjadi Kekuatan Perubahan JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK

Oleh: Ronny A. Buol

 

JAKARTA, KILASMANADO.com -- Tak ada nama yang paling diingat dalam waktu-waktu terakhir ini selain AHOK. Tak perlu mengurai jejak rekam Basuki Tjahaya Purnama, karena sepak terjangnya telah menyejarah dan menjadi penanda harapan. Apalagi kalau bukan Indonesia yang lebih baik.

 

Puncaknya adalah ketika Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengetuk palu memerintahkan Ahok ditahan sesudah vonis 2 tahun penjara dibacakan. Maka menangislah mereka yang menaruh harapan pada sosok dirinya. Semuanya, bahkan Indonesia, pun menitikkan air mata.

 

Air mata yang sama pada perasaan yang entah, juga akhirnya menjebol ketegaran Djarot Saiful Hidayat, patner sang fenomenal yang bukan hanya sekedar tandem mengantar Pemerintahan DKI ke arah yang lebih baik. Tetapi telah menjadi lebih dari seorang karib. Mungkin tak pernah ada pasangan kepala daerah seharmonis mereka. Saling mendukung dalam berbagai hal.

 

Air mata Djarot harus diseka dengan sapu tangannya tatkala Adhie MS memimpin paduan suara di Balai Kota, Rabu (10/5/2017) pagi hari. Paduan suara yang tak sekedar bernyanyi, melainkan orkestra yang mewakili kepedihan pada rasa ketidakdilan yang menimpah sosok non kompromitis pada apapun bentuk korupsi.

 

Tak cuma Djarot yang berani menjaminkan dirinya rela masuk penjara demi penangguhan Ahok bisa disetujui hakim. Tapi kini, gerakan mengumpulkan KTP warga DKI yang mencintai gubernur terbaik mereka itu mulai berjalan. "Revolusi" demi "revolusi" sosial terus bergerak mengitari nama Ahok.

 

Revolusi bunga, revolusi balon, dan kini revolusi lilin, dan entah revolusi apa lagi yang akan terus dihembuskan oleh pendukung yang mengidentifikasi diri mereka sebagai "silent majority". Sebuah kelompok tanpa struktur tetapi merasa saling punya ikatan yang terus bergerak.

 

Suara mereka adalah soal Indonesia yang lebih baik. Harapan yang semestinya ada di pundak Ahok. Sosok yang mereka harapkan terus memimpin ibukota dengan berbagai kebijakan dan pemikirannya yang menginspirasi banyak orang.

 

Kebijakan dan ketokohan yang patut ditiru di daerah lain di seluruh Indonesia, tetapi justru dimusuhi oleh kelompok yang tak menginginkan Indonesia menjadi lebih baik. Kelompok yang terus berusaha "memenjarakan" Ahok dengan berbagai cara.

 

Saat Ahok kemudian harus berada di balik jeruji sel Cipinang (kini di Mako Brimob), kelompok ini lalu bersorak kegirangan, merayakannya dengan pesta sambil tertawa lega. Perayaan itu tak sekedar untuk kekalahan Ahok, tetapi juga kemenangan untuk kelompok intoleran.

 

Intoleran yang bukan sekedar tak sepaham dengan urusan keyakinan tentang transenden. Tetapi juga intoleran terhadap kesepakatan bahwa Indonesia ini harus lebih baik. Lebih baik perekonomiannya, lebih baik kehidupan sosial kemasyarakatannya, lebih baik keadilan dan penegakkan hukumnya dan lebih baik kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjunjung peradaban dan kedamaian.

 

Mereka tak menginginkan itu semua. Bahwa negara ini harus mencapai tujuannya, masyarakat adil dan makmur dan menegakkan prinsip-prinsip keadilan. Negara yang tidak terkooptasi dan merelakan kekayaan alamnya terkorupsi. Mereka harus melawan agar praktik--praktik mereka bisa langgeng.

 

Dan sialnya, perlawanan itu terwakili pada sosok Ahok yang dijadikan musuh bersama. Tak sekedar soal perebutan kekuasaan kursi nomor wahid di DKI Jakarta. Tetapi meruntuhkan penanda yang disandang oleh Ahok: perubahan.

 

Jadi jika kini, perubahan yang melekat pada diri Ahok itu tersandera di balik jeruji oleh pasal karet yang dimaknai oleh Majelis Hakim sebagai trial by mob, maka sejatinya penanda itu menjadi kekuatan silent majority yang kini bergerak.

 

Ahok bisa terpenjara. Bagaimanapun keputusan pengadilan harus kita hormati. Karena salah satu jalan paling beradab menyelesaikan persoalan hukum adalah lewat proses peradilan. Tetapi, penanda yang kini menjadi energi revolusi perubahan itu tak bisa ikut terkerangkeng.

 

Jika sepanjang Rabu malam, kita menyaksikan jutaan lilin dinyalakan di berbagai wilayah Nusantara yang kita cintai ini, sejatinya ungkapan solidaritas dan rasa empati itu tak akan padam seiring nyala lilin. Tetapi mengejahwanta menjadi gerakan yang menginginkan perubahan Indonesia menjadi lebih baik.

 

Semoga silent majority punya energi yang cukup untuk itu.

 

Berita Terkait

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Kilas Manado, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.