K I L A S M A N A D O . C O M | Torang pe koran online

Palu Dirundung Pilu

  • 48 views
  • 0 comments
Kilasmanado.com,  Palu - Amblas, retak dan hancur. Jalan H.M Soeharto di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah itu tak kuat menahan guncangan gempa bumi pada Jumat pekan lalu. Terombang-ambing. Hilang akses yang krusial bagi warga. Jalan aspal panjang dan melandai turun dari timur menuju barat itu rata bersama ratusan rumah warga.

Kondisi pemukiman warga yang hancur di Petobo, Sulawesi Tengah | FOTO: EKSLUSIF (Ricky Octavian / Kilasmanado

 

 

Kilasmanado.com,  Palu - Amblas, retak dan hancur. Jalan H.M Soeharto di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah itu tak kuat menahan guncangan gempa bumi pada Jumat pekan lalu. Terombang-ambing. Hilang akses yang krusial bagi warga. Jalan aspal panjang dan melandai turun dari timur menuju barat itu rata bersama ratusan rumah warga.

"Parah kondisinya." Begitu warga setempat kerap berucap.

Masih tidak menyangka. Jalan primadona mereka hancur. Aspal mulus nan kokoh itu patah. Kondisi terparah dekat aliran irigasi. Patahan jalan mencapai lebih kurang 1 meter. Tanah itu ambles. Terdapat dua patahan jalan sekitar situ. Tangga setinggi 1,5 meter sampai dipasang. Terpaksa dilakukan agar warga tetap punya akses.

Makin turun ke bawah sekitar 50 meter dari irigasi, kondisi makin parah. Rumah dan jalan ambruk menjadi satu. Tak tersisa. Hanya tersisa puing-puing bangunan. Diduga banyak korban jiwa di wilayah itu. Belum bisa diketahui berapa jumlah tepatnya. Diperkirakan mencapai ratusan orang lebih.

Frengky,  salah satu warga yang menjadi saksi menceritakan bagaimana ganasnya tanah di Petobo itu mengganas. Ketika itu dia sedang di rumah. Tinggal bersama istri dan sang ibu. Jelang Magrib bencana itu terjadi. Goncangan begitu besar. Bergoyang tak keruan. Tanah seolah bergelombang. Mengeluarkan tekanan dari bawah. Bahkan seperti bergerak, mengubah posisi tiap bangunan.

Pria 26 tahun itu bergegas lari bersama istrinya. Panik sekali. Dalam upayanya melarikan diri, sempat terlihat bagaimana tanah itu mengangkat, terbelah dan mengeluarkan lumpur. Kejadian itu begitu lama. Sebagian rumah sudah amblas. Hanya terlihat atap.

Kadang tanah terbelah. Terbuka lalu tertutup lagi. Tanah seolah marah. Guncangannya juga dorongan dari bawah tanah. Hingga menyemburkan lumpur. Begitu dramatis rasanya.

"Saya tak menyangka. Itu mengerikan sekali," kata Frangki kepada Kilasmanado.com , Rabu kemarin.

Sudah lima hari dia bolak-balik dari pengungsian ke lokasi usai kejadian. Penasaran. Ada ganjalan di hatinya. Ingin mengetahui nasib sang ibu. Frangki datang dan hanya bisa melihat dari pinggir jalan. Bingung caranya untuk menuju ke rumah. Walaupun dia sudah tidak tahu lagi lokasi persis rumahnya dari kejauhan.

Tatapan pria satu itu hanya melihat ke kejauhan. Terkadang menunduk. Pilu karena goncangan lindu. Kini dia hanya menunggu adanya bantuan dari pihak berwenang. Melakukan evakuasi, berharap mengetahui nasih orang tua tercintanya.

"Saya hanya bisa menunggu sekarang. Mau lakukan sendiri tapi bingung caranya," ucapnya.

Kehebatan gempa Jumat sore itu menjadi pengalam pahit banyak orang di Palu. Mereka tidak menyangka. Kedamaian selama ini hancur. Diguncang gempa 7,4 SR. Khusus di wilayah Petobo ini mereka kaget karena guncangan gempa. Tidak terkena dampak tsunami. Tetapi, naiknya lumpur ke atas akibat tanah terbelah menjadi pengalaman paling mengerikan.

Seperti dirasakan Ramadan. Ketika hari kejadian, dari depan rumahnya dia melihat jelas bagaimana tanah tersebut di aliran irigasi itu terbelah. Bukan hanya membelah. Tanah di aliran irigrasi itu sampai terbuka dan tertutup. Seperti mulut sedang mengunyah makan.

Benar saja. Satu ekor sapi tetangganya jadi korban. Memang setiap sore, sapi di kawasan itu dilepas. Dan banyak mencari minum di pinggir irigasi. Sudah pemandangan sehari-hari.

Sapi tetangganya itu terjatuh ke dalam irigasi. Tanah sedang terbuka dan menutup akibat goncangan. Ketika tanah membelah, sapi itu masuk dalamya. Terkubur hidup-hidup. "Makanya ini kalau dari jembatan masih berasa aroma sapi. Itu masuk ke dalam dan mati," tutupnya.

 

(Ricky Octavian) 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Kilas Manado, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.