kilasmanado.com - torang pe koran online

Mengenal Lebih Dekat Sosok Pierre Andreas Tendean Si Ganteng Dari Panorama

  • 213 views
  • 0 comments
MANADO, KILASMANADO.com – Pierre Andreas Tendean “si ganteng dari panorama” begitulah para gadis

 

 

MANADO, KILASMANADO.com – Pierre Andreas Tendean “si ganteng dari panorama” begitulah para gadis yang pada umumnya di Bandung menjulukinya.

 

Ayah Pierre Tendean bernama Dr. AL Tendean, Ibunya bernama Maria Elisabeth Cornet, seorang wanita indo berdarah Prancis. Dari ibunya Pierre memperoleh kulit putih dan tubuh tinggi. Jadi tentara memang pilihan hidup Pierre Tendean. Setelah lulus SMA di Semarang, Pierre Tendean enggan mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang dokter berdarah Minahasa. Konon Pierre sengaja mengerjakan tes asal-asalan saat mengikuti ujian Fakultas Kedokteran. Nah, giliran daftar akademi militer, dia kerjakan dengan sungguh-sungguh. Sudah bisa diduga, akhirnya Pierre jadi taruna angkatan darat tahun 1958. Walau saat itu yang mendukung hanya Mitzi, kakak sulungnya.

 

Pengalaman tempur pertama yang dijalani oleh Pierre Tendeaan ketika melakukan Operasi penumpasan pemberontakan di Sumatera. Kesempatan tersebut merupakan pengalaman dari kesempatan magang dalam merasakan medan pertempuran yang sesungguhnya. Saat itu Pierre Tendean masih Kopral Taruna.

 

Tahun 1962, Pierre Tendean Lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) dan menyandang pangkat Letnan Dua. Jabatan pertamanya sebagai Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2/Kodam II di Medan.

 

Pierre Tendean juga terkenal dengan parasnya yang rupawan kalau dalam istilah keren sekarang Pria ganteng dan macho. Pada waktu itu, Mahasiswi memiliki ungkapan untuk Pierre Tendean yakni "Telinga untuk Jenderal Nasution, tapi mata untuk Letnan Tendean." Ungkapan tersebut berawal ketika, Para mahasiswi itu tak bisa melepaskan pandangan dari podium. Saat Menhankam/Kasab Jenderal AH Nasution sedang memberikan ceramah di sebuah kampus, mata para mahasiswi kebanyakan bukan melihat Nasution, melainkan sesosok pria berkulit putih dan bertubuh atletis yang berdiri tegap di belakangnya.

 

Saat Pierre menempuh Pendidikan di ATEKAD, pesona seorang Pierre Tendean mampu membuat geger kebanyakan wanita Bandung. Pierre pun mendapat julukan yakni, Robert Wagner dari Panorama. Robert Wagner merupakan bintang film beken di Tahun 1950an. Sementara panorama adalah nama Daerah di Bandung yang merupakan lokasi pendidikan ATEKAD.

 

Salah satu adik perempuan Pierre, bernama Rooswidiati membenarkan kalau kakaknya menjadi idola para Gadis-gadis Bandung kala itu. Seingat Rooswidiati bahwa, tak ada gadis yang dipacari kakaknya saat sekolah di ATEKAD. Pierre lebih serius menekuni sekolah militernya daripada jalan-jalan dengan seorang Gadis. Meskipun, "Banyak yang kesengsem. Pierre adalah favorit para mahasiswi yang kuliah di sekitar Panorama," kata Roosdiawati dalam kesaksiannya, dalam buku berjudul “Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam.” Satu lagi kelebihan Pierre, yakni sangat mudah bergaul. Pusat sejarah TNI juga mencatat bahwa, "Setiap Pierre memimpin parade taruna, sosoknya selalu menarik perhatian.”

 

Saat persiapan Dwi Komando Rakyat, Saat persiapan Dwi Komando Rakyat (Dwikora),  konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris, dia ditugaskan mengikuti sekolah intelijen di Bogor saat itu Pierre sudah menjadi Komandan Peleton.

 

Dengan postur seperti bule, imigrasi tak curiga bahwa pria ini sebenarnya intelijen yang sedang mengumpulkan data saat ditugaskan digaris depan untuk Menyusup ke Singapura dan Johor dalam penyamaran sebagai turis. Tugas menantang bahaya seperti ini rupanya disenangi Pierre. Namun sang ibu selalu khawatir terhadap segala resiko yang munkin akan dialami oleh Pierre. Dengan kedekatan orang tua Pierre dengan keluarga Nasution, Ibunya meminta agar Pierre tak lagi bertugas di garis depan. Akhirnya Pierre mau menerima tugas sebagai ajudan Menhankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal AH Nasution. Dia bertugas mulai 15 April 1965 meskipun Pierre lebih nyaman menjadi perwira tempur lapangan daripada harus menjadi ajudan pejabat yang harus kental memegang protokoler.

 

Kedekatan Orang tua Piere Tendean dengan keluarga Nasution sudah lama terjalin. Ibu Nasution sudah mengenal Pierre sejak kecil. Pierre juga sempat tinggal di kediaman keluarga Nasution selama di Bandung.

 

Tak hanya Jenderal Nasution yang ingin agar Pierre Tendean menjadi Ajudannya. Faktanya, Jenderal Hartawan dan Jenderal Dandi Kadarsan juga ingin agar Pierre Tendean menjadi ajudan. Pierre pernah mengungkapkan kepada salah satu rekannya bahwa, "Hanya untuk satu tahun saja, setelah itu saya akan minta dipindah.” Namun keinginan Pierre tidak terwujud dikarenakan, baru enam bulan bertugas, Pierre menjadi salah satu korban pembunuhan Sekelompok tentara Tjakrabirawa menerobos masuk ke kediaman Jenderal Nasution.

 

Saat itu sebenarnya Pierre sudah turun piket. Rencananya Pierre akan pulang ke Semarang tanggal 30 soreh, untuk dapat merayakan hari ulang tahun Ibunya yang berhari ulang tahun tepat tanggal 30 september. Namun, keinginan tersebut dicegah oleh keluarga Nasution.

 

Menjelang tanggal 1 Oktober 1965, Pierre Tendean sedang tidak menjalani tugas namun waktu itu beliau berada di belakang rumah Dinas A.H. Nasution. Tak jelas, di mana ajudan pengganti yang seharusnya bertugas menggantikan Pierre pada malam itu. Pierre terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Seorang anak Nasution berlari untuk berlindung ke kamar paviliunnya. Pierre mengenakan jaket dan keluar menyandang senapan.

 

Salah seorang kemudian berteriak, "Siapa di sana. Letakkan senjata!" dengan suara bmembentak sambil menodongkan senjata. Kemudian Pierre menjawab dengan gagah, "Saya Nasution,” setelah itu, Pierre sempat melawan saat mau ditembak. Akhirnya dia didudukkan paksa dan ditembak empat kali dari belakang. Namun, disatu sisi, Jenderal Nasution bisa menyelamatkan diri dengan cara melompat tembok ke Kedutaan Besar Irak yang berada di sebelah rumahnya. Lalu, Pierre segera diikat dan dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur.

 

Jenazah Pierre dimasukkan paling akhir ke sumur tua itu. Usia Pierre baru 26 tahun saat dibunuh. Dia menjadi korban termuda dan satu-satunya perwira pertama yang jadi korban penculikan gerombolan Letkol Untung.

 

Duka mendalam pun dialami ibunya karena Pierre tak akan lagi pernah pulang ke Semarang dan juga calon istri bernama Rukmini Chaimin yang menantinya di Medan untuk melaksanakan pernikahan pada bulan November 1965.

 

Pierre Andreas Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Berdasarkan SK Presiden No. 111/KOTI/1965 tanggal 5 Oktober 1965, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Revolusi. Pasca kematian, secara anumerta Pierre Andreas Tendean dipromosikan menjadi Kapten. Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk di Balikpapan, Jakarta dan di Manado. Yang terbaru hari ini adalah diresmikannya Lapangan Tembak Pistol Pierre A. Tendean di Makodam XIII Merdeka, Manado. (EBD)

Berita Terkait

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Kilas Manado, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.