kilasmanado.com - torang pe koran online

Gubernur Buka Festival Seni Budaya Bantik 2016

  • 266 views
  • 0 comments

Gubernur Buka Festival Seni Budaya Bantik 2016

KilasManado.com - “Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka, merdeka, merdeka!,”. Inilah kalimat terakhir yang diucapkan Robert Wolter Mongisidi, sesaat sebelum delapan butir peluru penjajah bersarang di tubuhnya.

Diakhiri dengan adegan kedua adik kandung Robert Wolter Mongisidi, masing-masing Marie Mongisidi dan Robby Mongisidi yang meletakkan karangan bunga diatas jenasah pahlawan nasional yang meninggal dalam usia muda 24 tahun, sontak membuat ratusan warga yang membanjiri Lapangan Bantik Malalayang berdecak kagum, Senin kemarin.

Memang masa perjuangan Bote, sapaan akrab Robert Wolter Mongisidi dapat terbilang singkat, tetapi masa perjuangannya ditumpahkan dalam pergulatan batin, wawasan dan cakrawala pikirannya yang luas semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme serta kecerdasannya tidaklah sependek waktu perjuangan yang dipersembahkannya untuk ibu pertiwi. Seperti yang beliau katakan “Jika jatuh sembilan kali, bangunlah sepuluh kali, jika tidak bisa bangun berusahalah untuk duduk dan berserah kepada Tuhan”.

Peringatan 67 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi, juga dirangkaikan dengan Festival Seni Budaya Bantik 2016 yang dibuka Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey. Pembukaan festival ini juga diramaikan dengan berbagai atraksi budaya keturunan Suku Bantik seperti Mahamba dan Kabasaran.  

Dalam sambutannya Gubernur atas nama pemerintah dan masyarakat Sulut memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada panitia pelaksana yang telah berupaya menggelar kegiatan ini, sebagai iven tahunan guna menunjang promosi wisata yang sedang giat-giatnya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulut.

“Kiranya, melalui momentum peringatan gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi ini, kita dapat merapatkan barisan untuk berjuang membangun negeri guna mewujudkan kesejahteraan rakyat, sehingga bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang maju dan bermartabat serta dapat berdiri sejajar dengan negara lain di dunia demi keutuhan NKRI,” kata Dondokambey.  

Lanjut Gubernur, dalam rana pembangunan di era mordenisasi dan globalisasi, keindahan panorama alam dan budaya merupakan dua hal menonjol yang dapat dikedepankan dan industri pariwisata. Dimana kedua pilar ini, memiliki daya tarik yang istimewa bagi para penikmat wisata untuk berkunjung dan berinvestasi di daerah ini.

“Dengan demikian budaya juga memiliki kontribusi besar terhdap pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat, jika dikelola dengan baik. Kekayaan budaya bangsa kita termasuk adat budaya Bantik yang mampu menjadi benteng perlindungan, penyaring atau filter masuknya nilai-nilai budaya asing yang tidak sesuai dengan dengan karakter budaya kita,” ungkapnya Karena itu Gubernur percaya masyarakat bantik mampu memegang peran penting tersebut, karena historikal Sulut telah membuktikan bahwa suku Bantik sangat menghormati adat.

“Kesemuanya itu dapat terwujud, karena falsafah hidup yang terus dipegang teguh yaitu Hinggilridang, Hintakinang dan Hintalrunang yang diartikan sebagai hidup saling mengasihi, saling menopang dan sepenanggungan tanpa memandang perbedaan,” kata Gubernur.

Sementara itu, Kolonel Inf Ricky Winowatan atas nama keluarga telah membacakan surat Bote yang ditulis 27 Maret 1945 atau enam bulan sebelum pelaksanaan eksekusi, menuturkan nilai yang dapat diambil dalam surat bahwa pada saat itu Bote sapaan akrab Robert Wolter Mongisidi, telah berhasil melewati pergumulan, gejolak bahkan benturan dalam pribadinya, baik intelektual, emosional dan spiritual. 

“Keberhasilan Bote tersebut tertuang dalam kalimat, ketakutan terhadap maut telah hilang padaku dan janganlah cemas atau gelisah, sebab aku sendiri telah lalui segala ketakutan dan kegentaran. Bote bahkan menjadi penghibur dan motivator bagi keluarga untuk tidak larut dalam kesedihan akan resiko hukuman mati yang harus dihadapi,” kata Winowatan.

Lanjut Winowatan, bagi Bote grasi adalah jebakan pihak penjajah, menerima grasi berarti mengingkari keyakinan akan kebenaran perjuangan yang dilakukan akan berubah menjadi kesalahan. “Dalam surat itu Bote berkata, kiranya jangan mengirim permohonan grasi buat saya sebab ini semata-mata dibawah pertangungan saya serta sayapun telah menolak grasinya,” tutup Winowatan sembari mengajak masyarakat sulut untuk menghargai sejarah.  

Menurut Ketua Lembaga Pemangku Adat Suku Bantik Minanga, AKBP Reino Bangkang Festival Seni Budaya Adat Bantik ini mempunyai nilai pariwisata.

“Kegiatan ini sudah dijadikan agenda tahunan baik Kota Manado maupun Provinsi Sulut. Tiap tahun akan kita buat dan kita selalu kaitkan dengan lima september ini, karena hari ini (kemarin,red) tanggal keramat dari komunitas masyarakat adat Bantik. Tanggal dimana dieksekusinya Robert Wolter Mongisidi yang notabenenya dia adalah orang Bantik. Makanya seluruh rangkaian seni Budaya kita bikin setiap lima september. Dan itu juga merupakan pemersatu masyarakat, komunitas adat bantik,” pungkasnya ramah. (tr) 

Berita Terkait

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Kilas Manado, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.