K I L A S M A N A D O . C O M | Torang pe koran online

Bawaslu RI : Sistem Proporsional Terbuka Picu Politik Uang

  • 1287 views
  • 0 comments
  •  Bawaslu RI : Sistem Proporsional Terbuka Picu Politik Uang Kilasmanado.com, JAKARTA - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan berpendapat, bahwa pemilu yang menganut sistem proporsional terbuka sangat berpotensi melanggengkan praktik politik uang (money politics). Dalam sistem proporsional terbuka, calon anggota legislatif (caleg) yang menang ditentukan berdasarkan suara terbanyak.
  • thumb  Bawaslu RI : Sistem Proporsional Terbuka Picu Politik Uang Kilasmanado.com, JAKARTA - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan berpendapat, bahwa pemilu yang menganut sistem proporsional terbuka sangat berpotensi melanggengkan praktik politik uang (money politics). Dalam sistem proporsional terbuka, calon anggota legislatif (caleg) yang menang ditentukan berdasarkan suara terbanyak.

Kantor Badan Pengawa Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI) | FOTO: IST.

  

Kilasmanado.com, JAKARTA - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan berpendapat, bahwa pemilu yang menganut sistem proporsional terbuka sangat berpotensi melanggengkan praktik politik uang (money politics). Dalam sistem proporsional terbuka, calon anggota legislatif (caleg) yang menang ditentukan berdasarkan suara terbanyak.

 

"Pemilihan legislatif kita masih menggunakan sistem proporsional terbuka. Partai berkompetisi, dan sesama caleg dalam satu partai juga berkompetisi," tutur Abhan kepada reporter Kilasmanado.com di Kantor Bawaslu RI, Jakarta Pusat, Senin (8/10/2018) siang tadi. Persaingan yang ketat menyebabkan semua caleg akan berjuang maksimal dengan berbagai cara untuk menang.


Oleh sebab itu, para calon legislatif (caleg) berpotensi menggunakan cara-cara seperti praktek politik uang demi mendulang suara. "Kalau para caleg berpikiran pragmatis, dia mungkin akan menggunakan cara politik uang untuk mendapat suara," jelas dia.

 

Selain itu, Abhan mengatakan potensi politik uang juga akan muncul dari ketatnya kompetisi antarpartai. Hal itu dikarenakan setiap partai akan berlomba-lomba memenuhi target ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen.


"Tentu ini akan ada sebuah kontestasi kompetisi yang sangat ketat. 16 partai ini bertanding bagaimana bisa 'menyelamatkan diri' untuk lolos ke parlemen dengan ketentuan 4 persen," pungkas Abhan.

 

 

(Ricky Octavian)

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Kilas Manado, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.